KARET KOMODITI ANDALAN KALBAR
Havela
braziliensis atau
yang lebih dikenal dengan nama tanaman KARET saat ini merupakan Komoditas
Perkebunan Unggulan KALBAR yang merupakan tanaman tahunan yang tumbuh
subur di daerah tropis dengan curah hujan yang cukup. Menurut asal-usulnya,
tanaman KARET berasal dari Brasil dan kemudian berkembang di seluruh
dunia. Namun saat ini penghasil utama KARET berada di negara-negara Asia
Tenggara seperti Thailand, Indonesia dan Malaysia.
Sejak zaman
dahulu pembangunan perkebunan di Indonesia dikembangkan oleh pemerintah
kolonial Belanda, KARET telah dijadikan sebagai komoditas unggulan
bersama tebu, kopi, teh, tembakau, kina, kapas dan rempah-rempahan. Demikian
halnya setelah perkebunan-perkebunan Belanda yang ada dinasionalisasi oleh
pemerintah Indonesia, KARET tetap menjadi salah satu komoditas primadona
perkebunan.
Dilihat dari
bentuknya Tanaman karet merupakan tanaman pohon yang tumbuh tinggi dan
berbatang cukup besar, tinggi pohon dewasa bisa mencapai 15 - 25 m, batang
tanaman pohon inilah yang mengeluarkan getah yang disebut latek karet.
Latek karet
ini merupakan sumber bahan baku industry seperti otomotif, militer dan lainnya.
Sumber bahan baku industry karet biasanya didapat dari perkebunan karet baik
perkebunan nasional, suasta maupun perkebunan rakyat.
Di KALBAR
perkebunan karet didominasi oleh perkebunan rakyat. Data Dinas perkebunan Kalbar meyebutkan dari luasan 513.248 hektar
perkebunan karet dikalbar 98 % nya merupakan tanaman perkebunan karet milik
rakyat.
Saat ini banyak
petani karet yang ingin meningkatkan kulitas dan kuantitas hasil perkebunan
karet mereka, baik melalui perluasan lahan maupun melalui peremajaan perkebunan
karet rakyat melalui bibit unggul
Menurut
zuliansyah (40) petani karet local Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu
raya ketika ditemui di kebun karet milik beliau “ Harga karet saat ini sanggat
menjanjikan untuk satu hektar saja bisa menghasilkan 10 kg bagi karet local apa
lagi karet unggul bisa 3 kali lipat pak apalagi harga eceran ditinggkat petani
kepenampung sudah 15 ribu per kilo dari pada jadi kuli bangunan berkebun karet
saja sudah cukup buat hari-hari”
Lain halnya
dengan Ahau (40) ketika ditemui MR di penampungan karet aseng, penampung karet
rakyat yang berkeliling dari satu kabupaten ke kabupaten lain untuk mendapatkan
harga yang murah tidaklah mudah selain persaingan harga antar penampung harga
karet juga dipengaruhi oleh perusahaan besar yang ada di Pontianak, situasi
perekonomian global menjadi salah satu factor yang menjadi naik turunnya harga
karet sehingga harga karet tidak stabil kalau tidak punya modal besar bisa-bisa
penampung bakal bangkrut.
Ayen seorang
manager penampung karet aseng yang merupakan perusahaan penampung karet
terbesar yang cukup lama eksis di kecamatan sungai ambawang kabupaten kubu raya ketika ditemui di
kantornya mengatakan “saat ini harga karet turun naik ditingkat penampung
tetapi memberikan efek positip bagi petani dibandingkan dahulu harga karet no 2
hanya Rp 2000 sekitar 10 tahun yang lalu sekarang sudah bisa mencapai 15.000per
kg apalagi karet kering bisa 40.000/kg”
Hal ini
membuktikan betapa besarnya peranan perkebunan karet rakyat bagi pembangunan
roda perekonomian rakyat kalbar. Dari penelusuran Mimbar Rakyat 98 % Dari
luasan perkebunan karet tersebut didominasi oleh perkebunan rakyat atau sekitar
259.028 jiwa petani yang berarti merupakan sumber kehidupan bagi satu juta jiwa
atau 30% bagi penduduk Kalbar. Untuk itu diperlukan peran serta pemda provinsi
kalbar untuk merespon peluang – peluang terutama di bidang perkebunan untuk
meningkatkan perekonomian masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar